Iklan

Iklan

,

Iklan

Peluang Investasi Mineral Kritis Indonesia untuk AS Dibuka Lebar, Pemerintah Tegaskan Tetap Prioritaskan Hilirisasi

21 Februari 2026, 16:20 WIB

 

Peluang Investasi Mineral Kritis Indonesia untuk AS Dibuka Lebar, Pemerintah Tegaskan Tetap Prioritaskan Hilirisasi

Indotorial.com – Pemerintah Indonesia resmi membuka peluang investasi yang lebih luas bagi perusahaan Amerika Serikat dalam pengembangan mineral kritis. Kebijakan ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama ekonomi bilateral Indonesia–AS, dengan tetap menempatkan kepatuhan terhadap regulasi nasional serta kepentingan strategis Indonesia sebagai prioritas utama.


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa seluruh implementasi investasi harus berjalan sesuai aturan yang berlaku di Indonesia serta mendukung agenda hilirisasi dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri.


Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil kepada awak media di Washington, D.C. pada Jumat, 20 Februari 2026. Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa Indonesia siap memfasilitasi investor Amerika Serikat yang ingin masuk ke sektor mineral kritis seperti nikel, logam tanah jarang (rare earth), dan komoditas strategis lainnya.


“Untuk mineral kritikal terkait dengan nikel, logam tanah jarang, dan mineral-mineral lainnya, kami telah bersepakat untuk memfasilitasi bagi pengusaha-pengusaha yang ada di Amerika Serikat untuk melakukan investasi dengan tetap menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam negara kita,” ujar Bahlil.


Investasi Mineral Kritis Tetap Mengacu Regulasi Nasional


Menurut Bahlil, pemerintah memberikan ruang investasi yang setara kepada seluruh negara, termasuk Amerika Serikat. Namun, ada satu prinsip yang tidak bisa ditawar: seluruh investasi harus mendukung agenda hilirisasi nasional dan tidak melanggar kebijakan larangan ekspor bahan mentah.


Ia menegaskan bahwa kerja sama ini tidak berarti Indonesia akan membuka kembali keran ekspor mineral mentah. Fokus pemerintah tetap pada proses pemurnian dan pengolahan di dalam negeri sebelum produk diekspor.


“Jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah. Yang dimaksudkan di sini adalah mereka setelah melakukan pemurnian kemudian hasilnya bisa diekspor,” tegasnya.


Sebagai contoh, Bahlil menyebut keterlibatan perusahaan asal Amerika Serikat seperti Freeport Indonesia yang telah lebih dulu beroperasi di Indonesia. Model seperti inilah yang dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah, yakni investasi yang menciptakan nilai tambah dan transfer teknologi.


Pemetaan Wilayah Tambang Prospektif untuk Investor AS


Dalam rangka memperkuat hubungan ekonomi strategis Indonesia–Amerika Serikat, pemerintah juga telah melakukan pemetaan terhadap sejumlah wilayah pertambangan yang dinilai prospektif. Wilayah-wilayah tersebut nantinya akan ditawarkan kepada investor yang serius ingin mengembangkan proyek mineral kritis di Indonesia.


Langkah ini dinilai strategis mengingat mineral kritis seperti nikel dan logam tanah jarang kini menjadi komoditas penting dalam rantai pasok global, khususnya untuk industri kendaraan listrik, baterai, dan energi terbarukan.


“Kami sudah melakukan pemetaan terhadap lokasi-lokasi yang prospek karena kita juga harus membangun dan menjaga hubungan yang sudah sangat baik ini,” jelas Bahlil.


Percepatan Eksekusi Investasi dan Dampak Ekonomi Nasional


Tak hanya membuka peluang, pemerintah juga berkomitmen memfasilitasi percepatan realisasi investasi. Tujuannya jelas: investasi mineral kritis harus memberikan dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri pengolahan, serta peningkatan penerimaan negara.


Dengan strategi ini, Indonesia ingin memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam rantai pasok global mineral kritis. Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku energi masa depan, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya yang sangat kompetitif.


Kebijakan membuka peluang investasi bagi perusahaan Amerika Serikat ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis yang terbuka terhadap investasi global. Namun, keterbukaan tersebut tetap dibingkai oleh prinsip kedaulatan pengelolaan sumber daya alam dan konsistensi menjalankan agenda hilirisasi nasional.


Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap kerja sama ekonomi Indonesia–AS tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga mempercepat transformasi industri nasional berbasis nilai tambah. Investasi mineral kritis Indonesia pun diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dalam jangka panjang.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas