Iklan

Iklan

,

Iklan

Indonesia–Amerika Serikat Sepakati Tarif Nol Persen untuk 1.819 Produk, Momentum New Golden Age Perdagangan

21 Februari 2026, 16:11 WIB

 

Indonesia–Amerika Serikat Sepakati Tarif Nol Persen untuk 1.819 Produk, Momentum New Golden Age Perdagangan

Indotorial.com – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi mencapai kesepakatan strategis di bidang perdagangan melalui dokumen agreement on reciprocal trade (ART). Dalam kesepakatan tersebut, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia mendapatkan fasilitas tarif nol persen untuk masuk ke pasar Amerika.


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kebijakan ini mencakup berbagai sektor penting, mulai dari pertanian hingga industri manufaktur berteknologi tinggi.


“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri. Antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang yang tarifnya adalah nol persen,” ujar Airlangga dalam keterangan pers di Washington DC, Kamis (19/2/2026).


Tarif Nol Persen Dorong Daya Saing Ekspor Indonesia


Kesepakatan perdagangan Indonesia–Amerika Serikat ini dinilai sebagai terobosan besar dalam memperkuat daya saing ekspor nasional. Produk-produk unggulan seperti kelapa sawit, kopi, dan kakao selama ini menjadi tulang punggung ekspor Indonesia ke pasar global. Dengan penghapusan tarif, harga produk Indonesia di pasar Amerika menjadi lebih kompetitif.


Tak hanya komoditas primer, sektor industri berteknologi seperti semikonduktor dan komponen pesawat terbang juga ikut menikmati fasilitas tarif nol persen. Hal ini membuka peluang besar bagi industri dalam negeri untuk memperluas penetrasi pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah produk ekspor.


Sektor Tekstil dan 4 Juta Pekerja Ikut Diuntungkan


Kabar baik juga datang untuk sektor tekstil dan apparel. Amerika Serikat memberikan fasilitas tarif nol persen melalui mekanisme tariff rate quota (TRQ). Kebijakan ini menjadi angin segar bagi industri padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja.


Menurut Airlangga, kebijakan ini berdampak langsung terhadap sekitar empat juta pekerja di sektor tekstil dan apparel. Jika dihitung bersama keluarga mereka, dampaknya bisa dirasakan oleh sekitar 20 juta masyarakat Indonesia.


Artinya, kesepakatan perdagangan Indonesia–Amerika Serikat ini tidak hanya berbicara soal angka ekspor, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan sosial dan stabilitas ekonomi nasional.


Indonesia Beri Fasilitas Serupa untuk Gandum dan Kedelai AS


Sebagai bagian dari prinsip timbal balik, Indonesia juga memberikan fasilitas tarif nol persen bagi sejumlah produk utama asal Amerika Serikat, khususnya komoditas pertanian seperti gandum dan kedelai.


Langkah ini dipastikan tidak akan membebani masyarakat. Justru sebaliknya, kebijakan tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga produk turunan seperti mi instan, tahu, dan tempe yang bahan bakunya masih bergantung pada impor.


“Masyarakat Indonesia membayar nol persen untuk barang yang diproduksi dari soybean ataupun wheat. Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” jelas Airlangga.


Komitmen Multilateral dan Perlindungan Data


Dalam konteks global, Indonesia dan Amerika Serikat juga sepakat untuk tidak mengenakan bea masuk atas transaksi elektronik sesuai dengan komitmen di forum World Trade Organization (WTO). Kesepakatan ini penting di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang semakin pesat.


Indonesia juga mendorong pengaturan transfer data lintas batas secara terbatas sesuai regulasi nasional, sekaligus memastikan perlindungan data konsumen tetap terjaga.


Selain itu, pemerintah akan menerapkan strategic trade management guna memastikan perdagangan tetap aman dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan di luar tujuan perdamaian.


Fokus Murni Perdagangan, Menuju Indonesia Emas


Airlangga menegaskan bahwa perjanjian ini berbeda dari sejumlah kesepakatan Amerika Serikat dengan negara lain. ART Indonesia–Amerika Serikat secara tegas difokuskan murni pada kerja sama perdagangan, tanpa memasukkan isu non-ekonomi seperti pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut Cina Selatan, maupun pertahanan dan keamanan perbatasan.


Perjanjian ini akan mulai berlaku 90 hari setelah seluruh proses hukum diselesaikan oleh kedua negara, termasuk konsultasi dengan DPR RI. Penyesuaian dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan tertulis bersama.


Menurut Airlangga, kesepakatan ini menjadi bagian dari visi besar menuju Indonesia Emas sekaligus membuka babak baru hubungan ekonomi kedua negara.


“Perjanjian ini juga disebut sebagai new golden age bagi Indonesia maupun Amerika Serikat,” tandasnya.


Dengan 1.819 pos tarif nol persen, kesepakatan perdagangan Indonesia–Amerika Serikat menjadi momentum strategis yang berpotensi memperkuat ekspor, menjaga stabilitas harga dalam negeri, serta mempercepat transformasi ekonomi nasional menuju era pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas