Iklan

Iklan

,

Kanal

Iklan

Indeks Kanal

BMKG Ungkap Sistem Peringatan Dini Tsunami Flores Bekerja dalam 2 Menit 16 Detik

28 Agustus 2026, 14:34 WIB

 

BMKG Ungkap Sistem Peringatan Dini Tsunami Flores Bekerja dalam 2 Menit 16 Detik

INDOTORIAL.COM, NTT – Pemerintah terus memperkuat penanganan dan mitigasi bencana gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk memastikan sistem peringatan dini tsunami berjalan cepat dan efektif.


Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan perkembangan penanganan gempa Flores tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 26 Agustus 2026.


Dalam laporannya, Teuku menjelaskan bahwa sistem peringatan dini tsunami BMKG langsung bekerja setelah gempa terjadi. Informasi mengenai potensi tsunami berhasil disampaikan kepada masyarakat hanya dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa terdeteksi.


“Ketika terjadi gempa, maka kurang dari 3 menit kita harus menginformasikan dan menyampaikan potensi tsunami akan terjadi di mana. Jadi tepat 2 menit 16 detik, BMKG mengumumkan ke semua kanal, semua media, sehingga masyarakat dapat mengambil tindakan penyelamatan sebelum tsunami terjadi,” ujar Teuku.


Kecepatan penyampaian informasi tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi bencana di Flores. Dengan peringatan yang diberikan dalam waktu singkat, masyarakat memiliki kesempatan untuk melakukan evakuasi dan mengambil langkah penyelamatan sebelum gelombang tsunami mencapai wilayah terdampak.


Tsunami Flores Capai 2,5 Meter


Dalam laporan yang sama, Kepala BMKG menyampaikan bahwa tsunami terjadi di sejumlah wilayah bagian utara Pulau Flores. Ketinggian gelombang tsunami dilaporkan mencapai hingga 2,5 meter.


Meski tetap menimbulkan dampak, kecepatan sistem peringatan dini dinilai turut membantu meminimalkan potensi korban jiwa. Pemerintah melihat perkembangan sistem mitigasi bencana saat ini sebagai kemajuan penting jika dibandingkan dengan kejadian gempa besar yang pernah melanda Flores pada masa lalu.


Teuku membandingkan kondisi tersebut dengan gempa tahun 1992 yang memiliki kekuatan magnitudo 7,8 dengan kedalaman 32 kilometer. Bencana tersebut tercatat menimbulkan korban hingga sekitar 2.000 orang, terutama akibat tsunami.


Menurut Teuku, peningkatan kemampuan deteksi gempa menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat mitigasi bencana saat ini. BMKG kini memiliki sekitar 2.000 alat operasional utama atau aloptama berupa sensor kegempaan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 175 sensor berada di Provinsi NTT. Keberadaan jaringan sensor tersebut membantu BMKG memperoleh informasi kegempaan secara lebih cepat sehingga peringatan kepada masyarakat dapat segera disampaikan.


“Ini merupakan hal yang baik dibanding dengan kejadian yang sama tahun 1992, 7,8 magnitude, kedalaman 32 kilometer, itu korbannya sampai 2.000 orang, khususnya karena tsunami. Nah jadi karena kita sekarang memiliki 2.000 aloptama (alat operasional utama) sensor terkait kegempaan, di mana 175 ada di provinsi ini, itu membuat kita dapat memberikan warning yang baik pada masyarakat,” kata Teuku.


BMKG Edukasi Masyarakat soal Gempa Susulan


Selain memperkuat sistem peringatan dini tsunami, pemerintah bersama BMKG dan pemerintah daerah juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat yang terdampak gempa Flores.


Langkah ini penting karena bencana gempa tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga kekhawatiran di tengah masyarakat. Setelah gempa dan tsunami terjadi, sebagian warga masih merasa cemas terhadap kemungkinan gempa susulan maupun potensi tsunami berikutnya.


BMKG berupaya memberikan informasi berdasarkan kondisi kegempaan yang terukur agar masyarakat tidak terus berada dalam ketakutan. Edukasi tersebut juga diarahkan untuk membantu warga menentukan kapan mereka dapat kembali ke rumah dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan.


Teuku mengatakan, sebelumnya terdapat masyarakat yang bahkan meminta staf BMKG tetap berada di posko karena mereka merasa lebih aman dan nyaman ketika mendapatkan pendampingan langsung.


“Masyarakat khawatir sekali sampai staf BMKG ditahan di posko-posko agar mereka merasa nyaman, tenang, takut ada gempa susulan dan sebagainya,” jelasnya.


Namun, kondisi mulai berangsur membaik. Sebagian masyarakat telah kembali ke rumah masing-masing, terutama mereka yang memiliki bangunan satu lantai dan tidak mengalami kerusakan berat.


Menurut BMKG, masyarakat tetap diperbolehkan kembali ke rumah apabila kondisi bangunan dinilai aman dan kerusakannya ringan. Sementara rumah yang mengalami kerusakan dan berpotensi membahayakan tetap harus dihindari sampai mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.


“Nah sekarang sudah mulai kembali ke rumah, rumahnya juga kondisinya satu lantai dan jarang-jarang. Ini kadang mengambil bantuan ke posko, tapi nanti kembali ke rumah jika kerusakannya ringan, tidak membahayakan. Ini kami memberikan pemahaman seperti itu,” ungkap Teuku.


Penguatan sistem peringatan dini tsunami, ketersediaan sensor kegempaan, serta edukasi masyarakat menjadi tiga bagian penting dalam mitigasi gempa Flores. Pemerintah memastikan penanganan tidak hanya berfokus pada respons setelah bencana, tetapi juga membangun kesiapsiagaan agar masyarakat dapat merespons ancaman gempa dan tsunami dengan lebih cepat dan tepat.


Dengan pengalaman bencana masa lalu dan perkembangan teknologi saat ini, pemerintah berharap sistem peringatan dini tsunami di NTT semakin mampu melindungi masyarakat. Kecepatan informasi menjadi kunci, karena dalam situasi bencana, selisih waktu beberapa menit saja dapat menentukan keselamatan banyak orang.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas