Iklan

Iklan

,

Iklan

Yamisa Zebua Sampaikan Terima Kasih ke Presiden Prabowo, Sekaligus Ingatkan Program Makan Bergizi Gratis Belum Sampai ke Nias Selatan

11 Maret 2026, 20:45 WIB

 

Yamisa Zebua Sampaikan Terima Kasih ke Presiden Prabowo, Sekaligus Ingatkan Program Makan Bergizi Gratis Belum Sampai ke Nias Selatan

INDOTORIAL.COM - Suasana hangat dan penuh makna terjadi di Hambalang pada Senin sore, 9 Maret 2026. Dalam sebuah pertemuan yang menampilkan kisah inspiratif dari daerah, layar besar menayangkan wajah-wajah yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu—anak-anak sekolah dari Nias Selatan yang dulu harus menyeberangi sungai demi bisa berangkat ke sekolah.


Kini, cerita mereka berubah. Anak-anak yang dahulu menjadi simbol kesulitan akses pendidikan itu berdiri langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto. Mereka bukan lagi sekadar kisah viral di internet, tetapi menjadi simbol harapan baru bagi pembangunan di daerah terpencil.


Salah satu yang hadir adalah Yamisa Zebua, siswa kelas 12 berusia 17 tahun. Namanya sempat menjadi perhatian publik setelah video yang menampilkan dirinya menyampaikan keluhan kepada Presiden beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, Yamisa dengan berani menyuarakan kesulitan yang dialami anak-anak di desanya, terutama soal akses menuju sekolah yang harus melewati sungai.


Kini situasinya telah berubah. Jembatan yang dulu mereka impikan akhirnya telah berdiri, mempermudah akses anak-anak menuju sekolah.


Dalam pertemuan tersebut, Yamisa menyampaikan rasa terima kasihnya secara langsung kepada Presiden.


“Terima kasih atas semua bantuan yang telah Bapak berikan kepada kami,” ujar Yamisa dengan suara tenang namun penuh keyakinan.


Ketika video viral yang pernah dibuat Yamisa diputar di layar, Presiden Prabowo langsung mengenali sosok siswa tersebut. Dengan nada santai, Presiden bahkan sempat bercanda mengenai keberanian Yamisa saat menyampaikan keluhan.


“Yamisa, itu kamu. Kamu itu ya? Berani sekali kau teriak-teriak ke Presiden,” ujar Presiden sambil tersenyum. “Tapi justru karena kau teriak-teriak, aku langsung dengar.”


Namun pertemuan itu tidak hanya diisi dengan ucapan terima kasih. Yamisa juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan harapan lain yang masih dirasakan oleh anak-anak di daerahnya.


Ia menyinggung soal Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.


“Izin Pak, tentang MBG. MBG-nya masih belum sampai di sekolah kami,” kata Yamisa dengan jujur.


Pernyataan itu langsung menarik perhatian Presiden.


“Belum sampai?” tanya Presiden.


“Iya, Pak. Orang tua kami tidak mampu,” jawab Yamisa singkat.


Percakapan sederhana tersebut menggambarkan realitas yang masih dihadapi oleh banyak anak di wilayah terpencil Indonesia. Meski akses pendidikan mulai membaik dengan hadirnya infrastruktur seperti jembatan, kebutuhan dasar seperti gizi yang cukup masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat.


Mendengar hal tersebut, Presiden Prabowo langsung merespons dengan memastikan bahwa pemerintah akan memperjuangkan agar program Makan Bergizi Gratis segera menjangkau sekolah Yamisa dan teman-temannya di Nias Selatan.


“Saya perjuangkan supaya segera MBG sampai ke sana,” kata Presiden.


Bagi Yamisa dan teman-temannya, program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar kebijakan pemerintah. Program tersebut adalah kebutuhan nyata yang mereka rasakan setiap hari, terutama bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.


Ketika Presiden menyebutkan bahwa ada pihak yang menilai program tersebut tidak diperlukan, Yamisa menjawab dengan spontan dan penuh keyakinan.


“Itu bohong, Pak,” ujarnya tegas.


Jawaban jujur tersebut membuat suasana pertemuan menjadi hangat. Bagi Presiden, keberanian Yamisa bukan hanya keberanian seorang siswa yang berbicara kepada kepala negara, tetapi juga cerminan kepemimpinan yang lahir dari pengalaman hidup.


Di balik percakapan singkat itu, tersimpan gambaran besar tentang kondisi Indonesia saat ini. Anak-anak desa yang dulu harus menyeberangi sungai demi pendidikan kini telah memiliki jembatan. Namun perjuangan belum selesai—mereka masih berharap akses yang lebih baik terhadap gizi, pendidikan, serta fasilitas dasar lainnya.


Sebelum pertemuan berakhir, Yamisa juga sempat menyampaikan harapan lain terkait kondisi jalan desa yang masih rusak serta kebutuhan perbaikan sekolah di wilayahnya. Presiden mendengarkan setiap masukan tersebut dengan penuh perhatian.


Di akhir percakapan, Presiden memberikan pesan sederhana namun bermakna kepada Yamisa.


“Belajar yang benar, ya,” kata Presiden.


Kisah Yamisa Zebua menjadi potret nyata bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang mendengar suara masyarakat, termasuk dari anak-anak di daerah terpencil seperti Nias Selatan. Sebab di tempat seperti itu, sebuah jembatan bukan hanya konstruksi baja dan beton—melainkan jalan menuju pendidikan, mimpi, dan masa depan.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas