Iklan

Iklan

,

Iklan

Menag Nasaruddin Umar Laporkan ke Presiden Prabowo Persiapan Lebaran 2026, Takbiran di Bali Disesuaikan dengan Hari Nyepi

5 Maret 2026, 15:30 WIB

 

Menag Nasaruddin Umar Laporkan ke Presiden Prabowo Persiapan Lebaran 2026, Takbiran di Bali Disesuaikan dengan Hari Nyepi

INDOTORIAL.COM - Jakarta – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, melaporkan sejumlah persiapan pemerintah menjelang perayaan Idulfitri kepada Presiden Prabowo Subianto. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengaturan malam takbiran yang berdekatan dengan perayaan Hari Nyepi di Bali.


Laporan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar usai melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka pada Rabu, 4 Maret 2026. Dalam pertemuan tersebut, Menag memaparkan berbagai kesiapan pemerintah menjelang Hari Raya Idulfitri, termasuk langkah antisipasi terkait potensi dinamika sosial di daerah yang memiliki perayaan keagamaan berbeda dalam waktu berdekatan.


Menurut Nasaruddin Umar, pemerintah sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah serta tokoh-tokoh masyarakat di Bali. Langkah ini dilakukan agar perayaan Nyepi yang dijalankan umat Hindu dan malam takbiran umat Islam tetap dapat berlangsung dengan saling menghormati.


“Persiapan Lebaran juga kami laporkan kepada Bapak Presiden. Karena di beberapa tempat, tanggal 19 itu bertepatan dengan Hari Nyepi. Kita tahu saat Nyepi tidak boleh ada suara bising, tidak boleh ada kendaraan, sementara pada malam itu juga ada teman-teman kita yang melaksanakan takbiran,” ujar Nasaruddin Umar kepada awak media.


Takbiran di Bali Tanpa Sound System


Menag menjelaskan bahwa hasil koordinasi dengan pemerintah daerah serta tokoh masyarakat di Bali menghasilkan kesepakatan bersama terkait pelaksanaan takbiran. Kesepakatan tersebut memastikan kedua perayaan keagamaan tetap berjalan tanpa mengganggu satu sama lain.


Dalam mekanisme yang disepakati, kegiatan takbiran tetap diperbolehkan namun dengan beberapa penyesuaian agar tidak bertentangan dengan ketentuan Hari Nyepi.


“Alhamdulillah kami sudah melaporkan kepada Presiden bahwa sudah ada kesepakatan dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat di Bali. Takbir tetap bisa berjalan, Nyepi juga tetap berjalan. Hanya saja takbiran tidak menggunakan sound system dan waktunya dibatasi,” jelasnya.


Ia menambahkan, pelaksanaan takbiran di Bali akan dibatasi waktunya, yakni dari pukul 18.00 hingga pukul 21.00 waktu setempat. Selain itu, penggunaan pengeras suara atau sound system tidak diperbolehkan agar tetap menghormati suasana hening yang menjadi inti perayaan Nyepi.


Langkah ini dinilai sebagai solusi yang mengedepankan nilai toleransi dan saling menghargai antarumat beragama di Indonesia.


Perbedaan Penetapan Idulfitri Dinilai Hal Biasa


Selain membahas pengaturan takbiran, Nasaruddin Umar juga menyinggung kemungkinan adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang lazim terjadi dalam kehidupan beragama di Tanah Air.


Penetapan resmi Hari Raya Idulfitri nantinya akan ditentukan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.


“Perbedaan Lebaran itu kita terima sebagai sesuatu yang biasa di Indonesia. Nanti kita akan lihat hasil sidang isbat untuk menentukan kapan tepatnya Idulfitri,” kata Nasaruddin.


Sidang isbat sendiri merupakan forum yang mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat Islam, hingga para ahli astronomi dan ulama, untuk menentukan awal bulan Syawal berdasarkan metode rukyat dan hisab.


Toleransi Antarumat Beragama Terus Dijaga


Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keharmonisan antarumat beragama, terutama ketika momentum hari besar keagamaan terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.


Bagi Nasaruddin Umar, momen berdekatan antara Nyepi dan malam takbiran justru menjadi contoh nyata kuatnya nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.


Ia berharap semangat saling menghormati ini dapat terus dijaga dan diperkuat sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.


“Ini adalah contoh bagaimana masyarakat Indonesia bisa saling menghormati. Nyepi tetap berjalan dengan khidmat, sementara saudara-saudara kita yang merayakan takbiran juga tetap bisa menjalankan ibadahnya,” pungkasnya.


Momentum ini sekaligus menunjukkan bahwa kerukunan antarumat beragama di Indonesia bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas