Iklan

Iklan

,

Iklan

Wapres Gibran Tinjau Pasar Ikan Fandoi Biak, Dorong Penguatan Ekonomi Nelayan Terintegrasi

14 Januari 2026, 11:15 WIB

 

Wapres Gibran Tinjau Pasar Ikan Fandoi Biak, Dorong Penguatan Ekonomi Nelayan Terintegrasi

INDOTORIAL.COM - Biak Numfor – Usai meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 41 Biak Numfor, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka melanjutkan agenda kerjanya dengan mengunjungi Pasar Ikan Fandoi, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Selasa (13/1/2026). Kunjungan ini dilakukan untuk melihat secara langsung aktivitas jual beli ikan, rantai distribusi hasil perikanan, serta kesiapan fasilitas pendukung yang digunakan nelayan dan pedagang.


Peninjauan tersebut menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam memperkuat ekonomi nelayan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menugaskan pengembangan Kampung Nelayan sebagai pusat produksi, pengolahan, hingga pemasaran perikanan rakyat di berbagai daerah pesisir, termasuk Biak Numfor.


Wapres Gibran menilai, keberadaan Kampung Nelayan harus terhubung langsung dengan pasar rakyat seperti Pasar Ikan Fandoi. Dengan keterhubungan tersebut, perbaikan fasilitas pasar, kelancaran distribusi hasil tangkapan, serta peningkatan daya saing produk perikanan lokal dapat berjalan secara beriringan. Pasar pun tidak hanya berfungsi sebagai ruang transaksi, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat pesisir.


Dalam kunjungan ini, Wapres didampingi oleh Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Amrin Ibrahim, Wakil Bupati Biak Numfor Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, Direktur PT Biak Ocean Seafood Yunus Saflembolo, serta Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Biak Numfor Effendi Igirisa.


Salah satu fokus utama peninjauan adalah operasional cool storage yang berada di kawasan Pasar Ikan Fandoi. Wapres menekankan bahwa menjaga mutu hasil perikanan merupakan kunci penting untuk membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.


“Mutu harus dijaga agar hasil perikanan nelayan dapat menembus pasar ekspor,” tegas Wapres Gibran di hadapan pengelola dan pemangku kepentingan sektor perikanan setempat.


Secara terpisah, Kepala Dinas Perikanan Biak Numfor Effendi Igirisa menjelaskan bahwa fasilitas penyimpanan dingin tersebut memiliki kapasitas hingga 200 ton, dengan kemampuan pembekuan mencapai 10 ton menggunakan teknologi air blast freezer (ABF). Fasilitas ini dibangun pada 2018 melalui program Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan dukungan pendanaan dari JICA.


“Sekarang asetnya sudah diserahkan ke Pemerintah Daerah Biak Numfor dan dikerjasamakan dengan PT Biak Ocean Seafood,” jelas Effendi.


Ia menambahkan, PT Biak Ocean Seafood menyerap hasil tangkapan nelayan dari berbagai wilayah, mulai dari Biak Timur, Biak Utara, Biak Barat, Biak Kota, hingga wilayah kepulauan di sekitarnya. Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan beroperasi, pengelola telah mengirimkan enam kontainer ikan ke Semarang untuk disortir sebelum diekspor ke Tiongkok.


Untuk menjaga kontinuitas pasokan, pengelola juga menambah armada tangkap sendiri berupa kapal berukuran sekitar 54 GT. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas usaha, terutama saat cuaca buruk menyebabkan hasil tangkapan nelayan menurun.


Keberadaan cool storage ini juga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan nelayan. Dengan fasilitas penyimpanan yang memadai, hasil tangkapan dapat diserap dalam jumlah besar tanpa menekan harga pasar.


“Harga menjadi lebih stabil, sehingga pendapatan nelayan meningkat,” ungkap Effendi.


Selain meninjau sektor perikanan, Wapres Gibran juga menyempatkan diri menyapa para pedagang non-ikan di Pasar Fandoi, termasuk pedagang sayur dan pinang. Salah satunya, Dolfina Pondayar (66), pedagang pinang yang telah berjualan sejak 2002. Ia berharap adanya dukungan permodalan bagi pedagang kecil, khususnya perempuan Papua.


Sebagai informasi, Pasar Ikan Fandoi memiliki pasar kering seluas 1.250 meter persegi dan pasar basah seluas 750 meter persegi, dilengkapi tiga los dengan 60 meja beton. Setiap harinya, sekitar 60 pedagang sayur dan 110 pedagang ikan beraktivitas mulai pukul 06.00 hingga 23.00 WIT. Peninjauan ini mempertegas komitmen pemerintah dalam menjadikan pasar rakyat sebagai fondasi ekonomi daerah di Tanah Papua.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas