INDOTORIAL.COM - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemandirian pangan dan energi merupakan fondasi utama bagi tegaknya sebuah negara yang benar-benar merdeka dan berdaulat. Penegasan tersebut disampaikan Presiden saat meresmikan infrastruktur energi terintegrasi Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa sebuah peradaban modern tidak akan bisa berdiri kokoh apabila masih menggantungkan kebutuhan dasar rakyatnya kepada negara lain. Menurutnya, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan esensial adalah syarat mutlak bagi kelangsungan dan kekuatan suatu bangsa.
“Kita mengerti bahwa peradaban modern itu tergantung hal-hal yang esensial bagi berdirinya sebuah negara merdeka. Tentunya pertama, negara merdeka harus bisa menghasilkan pangannya sendiri. Ini sangat mendasar,” ujar Presiden Prabowo di hadapan para pejabat dan undangan yang hadir.
Presiden menilai, ketahanan pangan bukan sekadar isu ekonomi, melainkan menyangkut stabilitas nasional dan masa depan bangsa. Ketergantungan pada impor pangan, menurutnya, berpotensi melemahkan posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian.
Selain pangan, Presiden Prabowo juga menekankan bahwa sektor energi merupakan pilar kedua yang sama pentingnya. Ia menyebut bahwa Indonesia dianugerahi kekayaan sumber daya energi yang sangat besar oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan potensi tersebut harus dikelola secara optimal demi kepentingan nasional.
“Selain pangan, energi juga harus bisa kita hasilkan sendiri. Alhamdulillah, sebenarnya bangsa Indonesia diberi karunia yang luar biasa. Kita punya sumber-sumber energi yang sangat besar,” jelas Kepala Negara.
Presiden Prabowo memaparkan bahwa sumber daya batu bara yang melimpah di Indonesia tidak hanya dapat dimanfaatkan secara konvensional, tetapi juga bisa diolah menjadi berbagai produk energi turunan. Batu bara, lanjutnya, dapat dikonversi menjadi gas, bensin, hingga dimethyl ether (DME) yang berpotensi menggantikan LPG impor.
Tak hanya itu, Presiden juga menyoroti potensi panas bumi atau geotermal Indonesia yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia. Sayangnya, potensi tersebut hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Kita juga punya geotermal terbesar di dunia yang belum kita manfaatkan secara maksimal. Juga kemampuan kita di energi dari air, dan ke depan kita akan mengembangkan tenaga surya dengan panel-panel untuk listrifikasi,” ungkap Presiden.
Pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Presiden Prabowo ke depan. Pemerintah, kata dia, berkomitmen mendorong pemanfaatan energi ramah lingkungan agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri dan berkelanjutan.
Presiden pun menegaskan target besar pemerintah untuk mengurangi bahkan menghapus ketergantungan terhadap impor energi. Ia optimistis, dengan kerja keras dan kolaborasi semua pihak, Indonesia bisa mencapai kemandirian energi dalam beberapa tahun ke depan.
“Tidak perlu kita impor energi dari luar, ini sasaran kita. Kita harapkan dalam lima tahun kita bisa mencapai ini. Tapi kalau tidak lima tahun, tahun ke-6 atau ke-7 tidak masalah. Yang penting kita harus menuju ke situ,” tegas Presiden.
Peresmian RDMP Balikpapan sendiri menjadi simbol komitmen pemerintah dalam memperkuat industri energi nasional. Proyek strategis ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pengolahan kilang, mengurangi impor BBM, serta memperkuat ketahanan energi nasional sebagai fondasi Indonesia yang berdaulat dan mandiri.
(Indotorial.com)
