INDOTORIAL.COM – Sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan perkembangan positif hingga Oktober 2026. Mulai dari aktivitas sektor manufaktur yang semakin ekspansif, surplus neraca perdagangan, pertumbuhan ekspor, hingga inflasi yang masih berada dalam rentang sasaran pemerintah. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global.
Perkembangan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo menerima laporan mengenai perkembangan berbagai indikator ekonomi nasional. Pemerintah menilai sejumlah capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dalam negeri masih memiliki daya tahan yang cukup kuat dan berpotensi terus tumbuh hingga akhir tahun.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kinerja sektor manufaktur. Berdasarkan data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia, indeks pada periode terbaru mencapai level 54, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 52,4.
PMI Manufaktur Indonesia Menguat ke Level 54
Airlangga menjelaskan bahwa kenaikan PMI manufaktur tersebut mencerminkan semakin kuatnya aktivitas produksi di sektor industri nasional. Indeks yang berada di atas level 50 menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
Menurutnya, pencapaian PMI sebesar 54 menjadi perkembangan positif karena menunjukkan penguatan aktivitas industri sekaligus menjadi salah satu level ekspansi tertinggi dalam periode yang disampaikan pemerintah.
"Indeks Purchasing Manager, Indeks Indonesia di sektor manufaktur sudah masuk ke level ekspansi di 54. Itu meningkat dari bulan yang lalu 52,4 dan ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur," ujar Airlangga.
Penguatan sektor manufaktur menjadi salah satu faktor penting bagi perekonomian nasional. Pasalnya, industri pengolahan memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri, serta mendorong aktivitas perdagangan.
Kondisi ini juga menjadi indikasi bahwa kegiatan produksi di dalam negeri masih berjalan positif dan memberikan kontribusi terhadap pergerakan ekonomi nasional.
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 10,61 Miliar Dolar AS
Selain sektor manufaktur, kinerja perdagangan Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Airlangga menyampaikan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatatkan kelebihan sebesar 5,67 miliar dolar AS. Sementara itu, perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar 2,31 miliar dolar AS.
Jika dihitung secara kumulatif sejak Januari hingga September 2026, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS.
Airlangga menjelaskan, surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai 34,21 miliar dolar AS, sedangkan sektor migas masih mencatatkan defisit sebesar 23,6 miliar dolar AS.
"Dari segi bulan Januari sampai September 2026, ini surplusnya neraca perdagangan kita 10,61 miliar. Dipicu oleh surplus nonmigas sebesar 34,21 miliar dan walaupun defisit migas mencapai 23,6 miliar," jelasnya.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa perdagangan nonmigas masih menjadi penopang utama surplus perdagangan Indonesia. Kinerja ini sekaligus memperlihatkan pentingnya memperkuat daya saing produk nasional di pasar internasional.
Ekspor Nasional Tumbuh 5,58 Persen
Dari sisi ekspor, pemerintah juga mencatat pertumbuhan positif. Airlangga menyebut nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS.
Angka tersebut meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year).
Sementara itu, ekspor nonmigas tercatat mencapai 212,27 miliar dolar AS. Besarnya kontribusi sektor nonmigas memperlihatkan bahwa produk-produk Indonesia di luar komoditas migas masih menjadi komponen utama dalam aktivitas perdagangan luar negeri.
Pertumbuhan ekspor menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kinerja perekonomian nasional. Selain mendukung surplus neraca perdagangan, peningkatan ekspor juga berpotensi memperluas pasar produk dalam negeri dan memperkuat aktivitas industri nasional.
Inflasi Oktober 2026 Masih dalam Rentang Sasaran
Di tengah perkembangan positif sektor manufaktur dan perdagangan, pemerintah juga terus memperhatikan stabilitas harga kebutuhan masyarakat.
Airlangga menyampaikan bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (year on year) dan 0,22 persen secara bulanan (month to month). Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 2,4 persen.
Menurut Airlangga, angka inflasi tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
Ia menjelaskan bahwa tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food, termasuk makanan dan minuman, cabai rawit, serta ikan segar.
Selain itu, sektor transportasi, termasuk angkutan udara, juga memberikan kontribusi terhadap pergerakan harga.
Untuk mengantisipasi peningkatan biaya transportasi menjelang periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, pemerintah menyiapkan program diskon. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus menjaga daya beli selama periode libur akhir tahun.
Airlangga menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengendalikan tekanan harga agar tidak terlalu membebani masyarakat.
Pemerintah Optimistis Fundamental Ekonomi Tetap Terjaga
Berbagai indikator yang disampaikan dalam rapat terbatas tersebut menjadi gambaran perkembangan ekonomi Indonesia hingga menjelang akhir 2026.
Penguatan PMI manufaktur, surplus neraca perdagangan, pertumbuhan ekspor, serta inflasi yang masih berada dalam sasaran menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Pemerintah juga berupaya memastikan berbagai program ekonomi berjalan secara konsisten, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan pengendalian inflasi, penguatan sektor industri, dan perlindungan daya beli masyarakat.
Menurut Airlangga, kondisi ekonomi Indonesia hingga saat ini masih menunjukkan ketahanan yang baik. Pemerintah pun berharap stabilitas tersebut dapat terus dipertahankan sampai penghujung tahun.
"Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," pungkas Airlangga.
Melalui evaluasi ekonomi yang dilakukan bersama Presiden Prabowo dan jajaran Kabinet Merah Putih, pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terpelihara.
Dengan berbagai capaian tersebut, penguatan industri dalam negeri, peningkatan ekspor, pengendalian inflasi, serta perlindungan daya beli masyarakat akan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.
(Tim Indotorial)


