Iklan

Iklan

,

Kanal

Iklan

Indeks Kanal

HUT ke-81 RI, Harapan Tumbuh di Tengah Trauma Gempa, Warga Reok NTT Berharap Kehidupan Segera Pulih

19 Agustus 2026, 20:42 WIB

 

HUT ke-81 RI Harapan Tumbuh di Tengah Trauma Gempa, Warga Reok NTT Berharap Kehidupan Segera Pulih

INDOTORIAL.COM - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini menghadirkan suasana berbeda bagi warga Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Alih-alih merayakan 17 Agustus dengan penuh kemeriahan, sebagian warga justru masih berada di pengungsian setelah gempa mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu subuh, 15 Agustus 2026.


Bagi Yuyun Sari, seorang guru asal Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, gempa tersebut mengubah seluruh rencana yang telah dipersiapkannya untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Sebelum bencana terjadi, Yuyun telah menyiapkan sejumlah atraksi bersama murid-muridnya, termasuk atraksi tari dan goyang daerah.


Namun, rencana tersebut terpaksa dibatalkan. Yuyun kini harus mengutamakan keselamatan diri dan keluarganya, sekaligus memikirkan kondisi rumah yang rusak akibat gempa.


“Sebenarnya kami, saya sebagai guru, saya rindu sekali dengan anak. Karena banyak sekali atraksi yang sudah saya persiapkan. Untuk anak-anak seperti atraksi goyang daerah semuanya. Sudah saya latih anak-anak saya,” tutur Yuyun saat ditemui di lokasi pengungsian Kecamatan Reok, Senin, 17 Agustus 2026.


Nyaris Tertimpa Lemari Saat Gempa


Yuyun masih mengingat jelas detik-detik ketika gempa terjadi. Saat itu, ia masih berada di kamar, sementara suaminya baru selesai melaksanakan salat subuh.


Guncangan yang terjadi begitu kuat hingga membuat lemari di dalam rumah roboh dan menghalangi pintu keluar. Dalam kondisi panik, Yuyun berusaha menyelamatkan diri. Ia bahkan hampir tertimpa lemari sebelum akhirnya menemukan jalan keluar melalui bagian tembok rumah yang runtuh.


“Saya hampir tertindas lemari, tapi saya keluarnya bukan lewat pintu karena pintu sudah terhalang lemari. Saya keluarnya lewat tembok yang roboh,” kisahnya.


Tidak ada barang yang sempat dibawa ketika Yuyun dan keluarganya meninggalkan rumah. Kekhawatiran terhadap kemungkinan tsunami membuat mereka memilih segera menuju lokasi yang dianggap lebih aman.


“Langsung ke sini tanpa membawa satu apa pun. Langsung lari. Uang apa pun tidak ada kami ingat. Langsung lari saja,” ujarnya.


Kondisi rumah yang kini rusak dan tertimpa pohon besar juga membuat Yuyun belum berani kembali. Trauma akibat gempa masih dirasakan hingga saat ini.


“Kami mau pulang ke mana? Karena rumah kami sudah roboh,” katanya.


Bantuan Presiden Prabowo Menguatkan Warga


Di tengah situasi darurat tersebut, bantuan yang datang kepada para pengungsi menjadi sumber kekuatan tersendiri. Berbagai kebutuhan pokok, seperti beras dan ikan sarden, mulai diterima masyarakat yang terdampak gempa.


Bagi Yuyun, bantuan tersebut bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di pengungsian. Kehadiran bantuan juga menjadi tanda bahwa masyarakat Reok mendapat perhatian di tengah kondisi sulit yang mereka hadapi.


“Alhamdulillah sangat terbantu sekali dalam keadaan sekarang. Ini yang namanya keadaan darurat. Dapat bantuan ini sangat membantu,” kata Yuyun.


Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak gempa di NTT.


“Terima kasih banyak Bapak Presiden Prabowo. Karena kami masih trauma untuk pulang ke rumah,” ujarnya.


Warga Masih Mengingat Kuatnya Guncangan


Cerita serupa disampaikan Destria, warga Reok yang juga terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya akibat gempa. Ia mengaku masih mengingat kuatnya guncangan yang terjadi saat sebagian warga masih terlelap pada waktu subuh.


Setelah keluar dari rumah, situasi semakin mencekam ketika alarm di sekitar tempat tinggalnya yang berada di pinggir kali berbunyi. Warga pun bergegas menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.


“Itu susah diceritakan, tapi luar biasa bagaimana guncangannya,” ujar Destria.


Kedatangan bantuan membuat dirinya merasa lega. Ia bersyukur masyarakat Reok mendapat perhatian dan bantuan dalam kondisi darurat tersebut.


“Alhamdulillah senang. Walaupun kami yang orang bilang NTT ini kadang sering dilupakan, apalagi khususnya yang di Manggarai, khususnya di Kecamatan Reok ini. Tapi alhamdulillah tahun ini, bencana kali ini, kami langsung dapat dari Bapak Presiden. Terima kasih banyak,” katanya.


Berharap Pemulihan Segera Berjalan


Sementara itu, Hendrik, seorang mekanik asal Kupang yang sedang berada di Reok ketika gempa terjadi, memilih berlari menuju bukit setelah warga mengingatkan adanya kemungkinan tsunami. Setelah situasi dinilai lebih memungkinkan, ia kemudian menuju lokasi pengungsian.


Menurut Hendrik, bantuan yang diterima masyarakat sangat membantu meringankan beban selama berada di pengungsian. Ia berharap perhatian pemerintah terhadap masyarakat NTT tidak berhenti setelah masa tanggap darurat berakhir.


“Kalau bantuan ini cukup membantu,” ujar Hendrik.


Ia juga menitipkan harapan agar pemerintah terus memperhatikan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat NTT.


“Semoga ke depan Bapak Presiden lebih memperhatikan masyarakat di NTT supaya lebih maju dan sejahtera,” katanya.


Bagi para pengungsi di Reok, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini memang berlangsung jauh dari suasana yang mereka bayangkan. Tidak ada atraksi yang telah dipersiapkan Yuyun bersama murid-muridnya. Tidak ada pula kemeriahan seperti perayaan 17 Agustus pada umumnya.


Yang tersisa adalah perjuangan untuk bertahan, memulihkan kondisi, dan mencari kepastian tentang kehidupan setelah bencana.


Namun, di tengah keterbatasan di lokasi pengungsian, semangat kemerdekaan tetap hidup melalui harapan. Yuyun berharap Indonesia terus berada dalam kondisi aman, damai, dan sejahtera. Ia juga berharap masyarakat NTT tetap mendapat perhatian dan bantuan selama proses pemulihan berlangsung.


“Harapannya Indonesia jaya selalu, makmur selalu, damai selalu. Dan untuk NTT semoga kami tetap baik-baik saja dan bantuan selalu datang untuk kami,” kata Yuyun.


Destria berharap proses pemulihan segera berlangsung agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dan menggerakkan perekonomian. Hendrik juga berharap Indonesia terus maju dan berkembang.


Di Reok, makna kemerdekaan pada 17 Agustus 2026 terasa dalam bentuk yang sederhana. Bagi warga yang masih berada di pengungsian, kemerdekaan bukan hanya tentang perayaan dan kemeriahan, tetapi juga tentang rasa aman untuk kembali pulang, kesempatan membangun kehidupan dari awal, serta keyakinan bahwa masyarakat terdampak bencana tidak berjalan sendirian.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas