INDOTORIAL.COM - Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan kembali menguat dalam beberapa waktu ke depan. Optimisme tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, usai mengikuti rapat terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.
Dalam keterangannya, Perry menegaskan bahwa kondisi rupiah saat ini sebenarnya berada pada level undervalued atau masih berada di bawah nilai wajarnya. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid menjadi alasan kuat mengapa mata uang Garuda berpotensi mengalami penguatan.
“Fundamental ekonomi kita kuat. Pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi rendah, kredit tumbuh baik, dan cadangan devisa juga kuat. Ini menunjukkan bahwa rupiah mestinya stabil dan cenderung menguat,” ujar Perry pada Selasa, 5 Mei 2026.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan nasional di tengah tekanan global yang masih membayangi sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan kebutuhan musiman yang bersifat jangka pendek.
Faktor Global Jadi Penyebab Tekanan Rupiah
Perry menjelaskan, terdapat beberapa faktor global yang memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya adalah tingginya harga minyak dunia yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan dolar Amerika Serikat.
Selain itu, kenaikan suku bunga Amerika Serikat juga menjadi faktor utama yang menyebabkan penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah. Saat ini, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat berada di level 4,47 persen, yang dinilai cukup tinggi dan memengaruhi arus modal global.
“Dolar AS menguat karena suku bunga Amerika masih tinggi. Ini tentu memberikan tekanan terhadap banyak mata uang negara berkembang,” jelas Perry.
Tak hanya faktor global, Bank Indonesia juga mencatat adanya peningkatan permintaan dolar akibat kebutuhan musiman di dalam negeri. Mulai dari repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan valuta asing untuk keberangkatan jemaah haji turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Meski demikian, BI memastikan kondisi tersebut masih dalam batas yang terkendali dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan.
BI Siapkan Tujuh Langkah Strategis untuk Stabilkan Rupiah
Sebagai respons terhadap dinamika global tersebut, Bank Indonesia telah melaporkan tujuh langkah strategis kepada Presiden Prabowo guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Langkah pertama yang dilakukan adalah memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun offshore. BI memastikan cadangan devisa Indonesia saat ini berada dalam posisi aman sehingga cukup kuat untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Cadangan devisa kami kuat dan cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tegas Perry.
Langkah kedua dan ketiga difokuskan pada penguatan arus modal asing serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. BI terus mendorong masuknya modal melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menutup arus keluar dana dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).
Selain itu, BI juga aktif melakukan pembelian SBN di pasar sekunder. Hingga saat ini, total pembelian SBN oleh Bank Indonesia telah mencapai Rp123,1 triliun secara year to date.
Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan pun terus diperkuat, termasuk membuka opsi kebijakan buyback untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Pengawasan Pembelian Dolar Diperketat
Sementara itu, langkah berikutnya dilakukan melalui penjagaan likuiditas perbankan agar tetap longgar serta pembatasan pembelian dolar di pasar domestik.
Bank Indonesia kini menurunkan batas pembelian dolar dari sebelumnya 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan permintaan valuta asing di pasar domestik.
Tak hanya itu, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan juga memperketat pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi yang memiliki transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar.
Pengawasan dilakukan secara intensif guna memastikan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah volatilitas global.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan sikap proaktif pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung, Indonesia dinilai tetap memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk menjaga rupiah tetap stabil dan berpotensi menguat dalam jangka menengah hingga panjang.
(Indotorial.com)
