INDOTORIAL.COM - Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto terus memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara sahabat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Laos. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkokoh posisi Indonesia di tingkat regional sekaligus menghadapi berbagai tantangan global secara kolektif.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan antara Gibran Rakabuming Raka dengan Wakil Perdana Menteri Republik Demokratik Rakyat Laos, Thongsavan Phomvihane, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Pertemuan ini menjadi momentum penting menjelang peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Laos yang akan jatuh pada 2027.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama bilateral yang difokuskan pada tiga sektor utama, yakni ekonomi, keamanan, dan politik. Hal ini disampaikan oleh Anis Matta dalam keterangan pers usai pertemuan.
Menurut Anis, penguatan kerja sama ekonomi menjadi salah satu prioritas utama, sejalan dengan agenda besar pemerintah Indonesia dalam membangun kemandirian nasional. Salah satu fokusnya adalah investasi di Laos yang mendukung ketahanan pangan, yang kini menjadi fondasi penting dalam strategi pembangunan nasional.
“Investasi yang kita rencanakan di Laos ini berhubungan dengan agenda prioritas pemerintah yaitu ketahanan pangan,” jelas Anis.
Tak hanya ekonomi, kerja sama di bidang keamanan juga menjadi perhatian serius kedua negara. Indonesia dan Laos berkomitmen meningkatkan kolaborasi dalam menghadapi kejahatan lintas negara, termasuk maraknya kasus penipuan daring (scam) yang melibatkan warga negara Indonesia (WNI) di kawasan tersebut.
Anis menyoroti bahwa selain Kamboja, Laos juga menjadi salah satu lokasi yang cukup banyak terkait kasus tersebut. Oleh karena itu, penguatan kerja sama intelijen dan keamanan dinilai sangat penting untuk melindungi warga negara sekaligus menjaga stabilitas kawasan.
Di sisi lain, Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Aminuddin Ma’ruf, mengungkapkan bahwa Wakil Presiden mendorong eksplorasi peluang investasi strategis, khususnya di sektor pupuk melalui hilirisasi industri.
Langkah ini tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga memperluas dampaknya ke tingkat regional, khususnya di Asia Tenggara. Dengan pendekatan ini, Indonesia ingin memainkan peran lebih besar dalam menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan.
“Kerja sama ini diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dalam skala regional,” ujar Aminuddin.
Selain sektor pangan, kedua negara juga membuka peluang kerja sama di bidang pertambangan. Hal ini menjadi bagian dari pengembangan kemitraan yang lebih luas dan berorientasi jangka panjang.
Meski pertemuan ini merupakan tahap awal, pemerintah Indonesia memastikan bahwa tindak lanjut konkret akan segera dilakukan. Koordinasi lintas kementerian dan BUMN akan menjadi kunci dalam merealisasikan berbagai peluang kerja sama yang telah dibahas.
Aminuddin menambahkan bahwa pertemuan lanjutan akan segera dijadwalkan dengan melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk BUMN strategis yang memiliki kapasitas untuk mengeksekusi proyek-proyek kerja sama tersebut.
Pertemuan bilateral ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat penting dari kedua negara, termasuk Duta Besar Laos untuk Indonesia Khamfeuang Phanthaxay serta jajaran pejabat tinggi kementerian luar negeri dari masing-masing negara.
Dengan semakin eratnya hubungan Indonesia-Laos, kerja sama ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dan pertumbuhan kawasan Asia Tenggara. Terlebih, menjelang 70 tahun hubungan diplomatik, kedua negara memiliki momentum strategis untuk membawa kemitraan ini ke level yang lebih tinggi.
(Indotorial.com)
