Iklan

Iklan

,

Kanal

Iklan

Indeks Kanal

Prabowo Instruksikan Penanganan Karhutla Tanjung Puting, Kirim 200 Pompa Air dan Rp2 Miliar untuk 200 Titik Bor

15 Oktober 2026, 21:15 WIB

 

Prabowo Instruksikan Penanganan Karhutla Tanjung Puting, Kirim 200 Pompa Air dan Rp2 Miliar untuk 200 Titik Bor

INDOTORIAL.COM – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, mendapat perhatian khusus. Untuk mendukung pemadaman di lapangan, Presiden memutuskan mengirimkan 200 pompa air serta mengalokasikan anggaran Rp2 miliar untuk pembangunan 200 titik bor air.


Arahan tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat perkembangan penanganan karhutla secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026). Dalam rapat tersebut, Presiden juga menekankan pentingnya memperkuat personel polisi hutan sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan hutan Indonesia dan mencegah kebakaran berulang.


Perhatian khusus terhadap Taman Nasional Tanjung Puting diberikan setelah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melaporkan adanya kebakaran baru di kawasan tersebut dengan luas mencapai sekitar 513,89 hektare.


Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karena lokasi kebakaran tersebar di sejumlah titik, berada di kawasan rawa, dan sulit dijangkau kendaraan. Sementara itu, operasi pemadaman melalui udara masih terkendala jarak pandang yang rendah akibat asap tebal.


Prabowo Minta Karhutla Tanjung Puting Ditangani Secara Serius


Dalam rapat tersebut, Prabowo menegaskan bahwa Taman Nasional Tanjung Puting harus mendapatkan perhatian serius karena merupakan kawasan konservasi yang perlu dijaga kelestariannya.


“Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional,” ujar Presiden.


Kebakaran di kawasan taman nasional menjadi persoalan yang perlu ditangani secara cepat dan terkoordinasi. Selain menghambat aktivitas di sekitar lokasi, karhutla juga berpotensi mengancam ekosistem hutan dan habitat satwa liar yang hidup di dalamnya.


Taman Nasional Tanjung Puting dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi penting di Kalimantan Tengah. Karena itu, penanganan kebakaran tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga perlu disertai langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas ke area lain.


Berdasarkan laporan BNPB dalam rapat tersebut, penanganan kebakaran saat ini dilakukan melalui penguatan satuan tugas darat. Langkah ini diperlukan karena kondisi asap tebal membatasi efektivitas operasi udara.


Dengan karakteristik wilayah yang didominasi rawa dan akses yang terbatas, dukungan peralatan pemadaman menjadi kebutuhan penting bagi petugas yang bekerja langsung di lapangan.


Prabowo Kirim 200 Pompa Air untuk Mendukung Pemadaman


Kebutuhan peralatan pemadaman menjadi salah satu pembahasan utama dalam rapat penanganan karhutla tersebut.


Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, melaporkan bahwa titik-titik kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting tersebar dan sulit dijangkau menggunakan kendaraan. Kondisi tersebut membuat petugas membutuhkan peralatan yang praktis dan dapat digunakan untuk mendukung pemadaman di kawasan rawa.


Salah satu kebutuhan mendesak adalah pompa air berukuran kecil yang dapat membantu petugas menjangkau titik kebakaran.


Ketika Pangdam menyampaikan kebutuhan sekitar 50 unit pompa air, Prabowo langsung memutuskan memberikan dukungan dalam jumlah lebih besar.


“Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200,” ujar Presiden.


Dukungan sebanyak 200 pompa air tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat upaya pemadaman di sejumlah titik kebakaran. Ketersediaan peralatan yang memadai menjadi salah satu faktor penting, terutama ketika petugas harus bekerja di lokasi yang sulit diakses kendaraan.


Meski demikian, efektivitas penanganan tetap bergantung pada distribusi peralatan, kesiapan personel, ketersediaan sumber air, serta koordinasi antarsatuan tugas di lapangan.


Anggarkan Rp2 Miliar untuk 200 Titik Bor Air


Selain pengadaan pompa air, kebutuhan sumber air untuk pemadaman juga menjadi perhatian Presiden Prabowo.


Dalam laporannya, Mayjen TNI Zainul Arifin menjelaskan bahwa karakteristik kawasan rawa di Tanjung Puting memungkinkan sumber air diperoleh melalui pengeboran pada kedalaman sekitar 10 hingga 15 meter.


Kebutuhan tersebut dinilai penting untuk mendukung ketersediaan air bagi petugas, khususnya ketika menghadapi kebakaran yang tersebar di berbagai lokasi.


Menanggapi laporan itu, Prabowo menyatakan dukungan untuk pembangunan 200 titik bor air dengan anggaran sebesar Rp2 miliar.


“Saya kirim Rp2 miliar, 200 titik,” kata Presiden.


Jika dibagi secara merata, anggaran tersebut setara dengan rata-rata Rp10 juta untuk setiap titik bor. Namun, angka itu merupakan perhitungan matematis dari total anggaran dan jumlah titik yang direncanakan, bukan rincian resmi biaya pelaksanaan setiap titik.


Pembangunan titik bor air diharapkan dapat membantu petugas memperoleh pasokan air lebih dekat dengan lokasi kebakaran. Dengan demikian, proses pemadaman dapat didukung oleh ketersediaan sumber air yang lebih mudah dijangkau.


Presiden juga meminta agar masyarakat setempat dilibatkan dalam pengerjaan titik-titik bor tersebut. Pelibatan warga diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kegiatan sekaligus memberikan ruang partisipasi masyarakat dalam upaya penanganan karhutla.


Prabowo Dorong Penguatan 70 Ribu Polisi Hutan


Selain langkah tanggap darurat, Prabowo kembali menyoroti pentingnya penguatan polisi hutan untuk menjaga kawasan hutan Indonesia.


Presiden meminta agar rencana penambahan dan penguatan kapasitas personel tersebut disampaikan kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB).


“Karena itu tolong sampaikan ke MenPANRB, kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita,” kata Prabowo.


Menurut arahan Presiden, penguatan jumlah polisi hutan perlu dilakukan secara bertahap. Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan penambahan personel, tetapi juga peningkatan kemampuan dalam menjaga kawasan hutan, melakukan pengawasan, serta mendukung pencegahan kebakaran.


Prabowo juga meminta dukungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk membantu pendidikan dan pelatihan polisi hutan.


“Kapolri nanti bisa bantu ya didik polisi hutan,” lanjutnya.


Arahan tersebut menempatkan penguatan personel sebagai bagian dari strategi perlindungan hutan dalam jangka panjang. Dengan kapasitas pengawasan yang lebih baik, upaya mendeteksi potensi kebakaran sejak dini dan menjaga kawasan konservasi diharapkan dapat semakin diperkuat.


Penanganan Karhutla Perlu Diimbangi Pencegahan


Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting membutuhkan kombinasi langkah cepat dan strategi pencegahan yang berkelanjutan.


Pengiriman pompa air, pembangunan titik bor, serta penguatan satuan tugas darat merupakan langkah yang diarahkan untuk membantu kebutuhan operasional pemadaman. Di sisi lain, penguatan polisi hutan dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan hutan agar tetap terlindungi.


Kondisi lapangan yang sulit dijangkau, wilayah rawa, dan asap tebal menunjukkan bahwa penanganan karhutla memerlukan kesiapan peralatan serta koordinasi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, petugas kehutanan, dan masyarakat.


Melalui rapat tersebut, Prabowo meminta agar kebutuhan mendesak di lapangan mendapatkan dukungan sekaligus menegaskan pentingnya menjaga hutan Indonesia secara serius.


Ke depan, keberhasilan penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting tidak hanya ditentukan oleh kecepatan memadamkan api, tetapi juga oleh kemampuan mencegah kebakaran baru, memperkuat pengawasan, dan menjaga kelestarian kawasan konservasi.


(Tim Indotorial)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas