Iklan

Iklan

,

Kanal

Iklan

Indeks Kanal

Prabowo Tekankan Pembangunan Bangsa Harus Berbasis Fakta, Sains, dan Realitas

8 Agustus 2026, 21:23 WIB

 

Prabowo Tekankan Pembangunan Bangsa Harus Berbasis Fakta, Sains, dan Realitas

INDOTORIAL.COM – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan dan kebangkitan Indonesia harus dilakukan dengan berpijak pada fakta, realitas, serta pendekatan ilmiah. Menurutnya, setiap kebijakan dan langkah pembangunan perlu disusun berdasarkan kondisi yang sebenarnya, bukan sekadar asumsi atau keinginan.


Pesan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat bertemu dengan 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi para periset untuk berdiskusi sekaligus menyampaikan hasil riset dan inovasi yang dikembangkan dari berbagai bidang.


Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo mengajak jajaran pemerintah dan para periset untuk membangun budaya kepemimpinan yang berani menghadapi fakta. Bagi Presiden, fakta memang tidak selalu menyenangkan, tetapi justru menjadi titik awal untuk memahami persoalan secara jujur dan menentukan solusi yang tepat.


“Saya terutama mengajak tim saya dan saudara-saudara sekalian kalau saya memimpin, saya sukanya itu memimpin dengan fakta, facts, realita dengan keadaan yang sebenarnya. Kadang-kadang fakta itu ya tidak enak, kadang-kadang melihat realita itu tidak enak, terus terang saja,” ujar Presiden.


Prabowo: Jangan Mengeluh dan Mencari Kambing Hitam


Presiden Prabowo mengatakan, keberanian melihat kondisi secara apa adanya merupakan bagian penting dalam proses membangun bangsa. Ketika sebuah persoalan diketahui berdasarkan fakta, pemerintah dapat melakukan evaluasi dan mencari jalan keluar secara lebih terukur.


Sebaliknya, menurut Presiden, kebiasaan mengeluh dan mencari pihak yang harus disalahkan tidak akan menyelesaikan masalah. Karena itu, setiap persoalan perlu dihadapi dengan sikap terbuka dan pendekatan yang rasional.


“Satu yang saya bilang, jangan mengeluh, jangan mencari kambing hitam, karena itu tidak akan membantu,” tegasnya.


Pesan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya budaya evaluasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah tidak cukup hanya melihat hasil yang diharapkan, tetapi juga harus memahami berbagai kendala dan kondisi nyata yang terjadi di lapangan.


Dengan begitu, kebijakan yang diambil tidak berhenti pada wacana, melainkan benar-benar dapat menjawab kebutuhan masyarakat.


Sains dan Teknologi Jadi Kunci Daya Saing Indonesia


Selain menekankan pentingnya fakta, Presiden Prabowo juga menyoroti peran sains dan teknologi dalam membangun daya saing Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang besar dan berpotensi menghasilkan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi pembangunan nasional.


Namun, potensi tersebut harus mendapatkan ruang untuk berkembang. Para ilmuwan dan periset perlu dibina, diberikan kesempatan, serta mendapatkan dukungan yang memadai agar hasil penelitian dapat terus dikembangkan.


“Jadi kita sebetulnya bahan bakunya banyak sekali, tapi ya apapun yang kita punya harus, saudara-saudara saintis kan, harus dicari, dibina, diberi kesempatan, dibesarkan, didukung melalui suatu proses,” kata Prabowo.


Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan Indonesia. Riset tidak hanya dipandang sebagai kegiatan akademik, tetapi juga sebagai salah satu fondasi untuk menciptakan solusi atas berbagai persoalan nasional.


Indonesia, dengan jumlah sumber daya manusia yang besar, dinilai memiliki modal penting untuk mengembangkan teknologi dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dalam negeri.


Kebijakan Harus Berbasis Bukti


Presiden Prabowo juga mengingatkan bahwa cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan makmur membutuhkan pendekatan yang rasional. Menurutnya, berbagai persoalan bangsa harus didekati dengan ilmu pengetahuan, matematika, serta pemahaman terhadap realitas.


“Kalau kita mendekati dengan cara saintifik, cara rasional, jangan dengan cara lain daripada rasional ya. Nanti kita akan keliru, rasional, science, mathematics, reality. Reality is science, reality is mathematics. Ya kalau kita mendekati dengan pola lain itu sudah masuk ke ranah lain, fakta. Nah jadi kadang-kadang fakta menyakitkan,” ujar Presiden.


Pendekatan tersebut menjadi penting karena pembangunan nasional menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Kebijakan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, pangan, energi hingga pembangunan infrastruktur membutuhkan data dan kajian yang kuat agar keputusan yang diambil benar-benar tepat sasaran.


Dalam konteks pemerintahan, pendekatan berbasis fakta juga berkaitan erat dengan evidence-based policy atau kebijakan berbasis bukti. Artinya, keputusan pemerintah idealnya disusun berdasarkan data, hasil penelitian, kondisi lapangan, serta analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.


Pertemuan Presiden Prabowo dengan para periset BRIN pun menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara dunia riset dengan kebutuhan pembangunan nasional. Hasil penelitian dan inovasi diharapkan tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat diterapkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Pada akhirnya, pesan Presiden Prabowo cukup jelas: pembangunan Indonesia tidak boleh dibangun berdasarkan asumsi semata. Fakta harus dihadapi, realitas harus dipahami, sementara sains dan teknologi harus dimanfaatkan untuk mencari solusi.


Dengan budaya pengambilan kebijakan yang berbasis bukti, riset yang kuat, serta dukungan terhadap para ilmuwan dan inovator, pemerintah berharap Indonesia dapat bergerak menuju bangsa yang semakin maju, mandiri, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat global.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas