Iklan

Iklan

,

Iklan

Indonesia Jajaki Investasi Pupuk di Laos, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

6 Mei 2026, 18:08 WIB

 

Indonesia Jajaki Investasi Pupuk di Laos, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

INDOTORIAL.COM - Pemerintah Indonesia melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus memperluas langkah strategis di kancah internasional. Salah satu upaya terbaru adalah penjajakan kerja sama dengan Laos di sektor industri pupuk. Langkah ini menjadi bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian pangan nasional.


Rencana tersebut diungkapkan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming saat menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri Laos, Thongsavan Phomvihane, di Istana Wapres, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membuka peluang kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan antara kedua negara.


Salah satu poin utama yang dibahas adalah potensi investasi PT Pupuk Indonesia di Laos. Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Aminuddin Ma’ruf, menyampaikan bahwa kerja sama ini didasarkan pada potensi yang saling melengkapi antara kedua negara.


“Laos memiliki cadangan potas yang besar, sementara Indonesia membutuhkan bahan baku tersebut untuk produksi pupuk,” jelas Aminuddin usai mendampingi Wapres. Kondisi ini menjadikan kolaborasi Indonesia-Laos sangat strategis, terutama dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong hilirisasi industri pupuk.


Saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan baku pupuk berupa potas dari Laos dengan nilai mencapai sekitar 60 juta dolar AS per tahun. Ketergantungan ini menjadi salah satu alasan utama pemerintah untuk mulai menjajaki investasi langsung, termasuk kemungkinan pembangunan pabrik pupuk di Laos.


Langkah ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus menekan biaya produksi. “Salah satu peluang investasi yang perlu kita jajaki adalah pendirian pabrik pupuk di sana untuk mengurangi biaya bahan baku,” ujar Aminuddin.


Tak hanya itu, Wapres juga mendorong agar kerja sama ini segera ditindaklanjuti dalam bentuk konkret. Fokus utama mencakup mekanisme pasokan bahan baku, skema investasi, hingga pengaturan perdagangan jangka panjang yang berkelanjutan.


Selain sektor pupuk, kerja sama Indonesia dan Laos juga berpotensi berkembang ke berbagai bidang lain. Beberapa di antaranya meliputi pembangunan infrastruktur melalui BUMN Karya, sektor pertambangan, hingga kerja sama di bidang pertahanan. Meski demikian, seluruh rencana tersebut masih berada dalam tahap awal dan akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan lanjutan.


Aminuddin menegaskan bahwa komunikasi antar kedua negara akan terus diperkuat. Pemerintah Indonesia juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk menyiapkan langkah tindak lanjut, termasuk melibatkan BUMN terkait dalam pembahasan teknis ke depan.


“Ini baru pertemuan awal antara pimpinan negara. Ke depan akan ada follow-up meeting yang melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN-BUMN terkait,” ungkapnya.


Melalui penjajakan kerja sama ini, Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat posisi di sektor pangan regional. Investasi di Laos tidak hanya berpotensi meningkatkan ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.


Dengan strategi ini, Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen bahan baku, tetapi juga bertransformasi menjadi pemain utama dalam rantai industri pupuk global.


(Indotorial.com)


Dukungan anda membuat operasional website ini tetap aktif, menjaga keberlangsungan situs ini, mulai dari biaya server, pengembangan fitur, hingga pembuatan konten yang lebih berkualitas