INDOTORIAL.COM - JAKARTA – Pemerintah memastikan cadangan energi nasional tetap aman menjelang perayaan Idulfitri 2026. Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), LPG, hingga minyak mentah dinilai masih berada dalam kondisi terkendali dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.
Kepastian tersebut disampaikan oleh Bahlil Lahadalia selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam laporan kepada Presiden pada Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara pada Jumat, 13 Maret 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah terus memantau kondisi cadangan energi nasional secara intensif, terutama menjelang momentum hari raya yang biasanya diikuti peningkatan konsumsi energi di masyarakat.
“Jadi kami laporkan Bapak, untuk menyangkut dengan BBM, baik crude, LPG, maupun minyak jadi, untuk menjelang hari raya dan ke depan, insyaallah, bisa kita atasi dengan komunikasi yang baik,” ujar Bahlil dalam laporannya.
Cadangan BBM Nasional Masih Aman
Bahlil menjelaskan bahwa ketersediaan BBM untuk memenuhi kebutuhan nasional saat ini masih berada di atas batas minimal cadangan nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Kondisi tersebut mencakup berbagai jenis BBM yang digunakan masyarakat maupun sektor transportasi dan industri.
Jenis BBM yang disebut masih dalam kondisi aman antara lain RON 90, RON 92, RON 98, hingga solar dan avtur. Dengan cadangan yang masih mencukupi, pemerintah optimistis kebutuhan energi selama periode Ramadan hingga Idulfitri dapat terpenuhi tanpa gangguan.
Momentum Idulfitri sendiri biasanya diiringi lonjakan konsumsi energi, terutama BBM untuk transportasi darat, udara, dan laut karena meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim mudik.
Karena itu, pemerintah terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan distribusi energi berjalan lancar di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah Perkuat Kedaulatan Energi
Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat kedaulatan energi nasional. Langkah ini dilakukan melalui berbagai strategi, salah satunya dengan meningkatkan pemanfaatan energi berbasis biodiesel serta mempercepat pembangunan dan pengembangan kilang minyak di dalam negeri.
Menurut Bahlil, pengembangan proyek kilang minyak seperti Refinery Development Master Plan (RDMP) menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar.
“Jadi RDMP kita selesaikan, ini cukup membantu kita, Pak. Mengurangi impor bensin kita 5,5 juta ton, sama BBM solar 3,5 juta,” ungkapnya.
Dengan beroperasinya proyek pengembangan kilang tersebut, pemerintah berharap kapasitas produksi BBM domestik dapat meningkat secara signifikan sehingga kebutuhan dalam negeri bisa lebih banyak dipenuhi dari produksi nasional.
Pengembangan Kilang Kurangi Ketergantungan Impor
Bahlil juga menjelaskan bahwa pembangunan refinery atau kilang minyak di dalam negeri merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Melalui peningkatan kapasitas produksi domestik, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah maupun produk BBM.
“Yang pada akhirnya kemudian nanti kalau lifting kita nggak mencapai 1,6 juta, selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan kita lifting, itulah yang kita impor,” jelas Bahlil.
Dengan kata lain, peningkatan kapasitas kilang dalam negeri diharapkan dapat menutup kesenjangan antara kebutuhan energi nasional dan produksi minyak mentah domestik.
Pemerintah Siapkan Strategi Pasokan LPG
Selain BBM, pemerintah juga memastikan ketersediaan LPG nasional tetap terjaga. Saat ini sebagian besar kebutuhan LPG Indonesia masih dipenuhi melalui impor dari berbagai negara.
Bahlil mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sementara sekitar 20 persen dari kawasan Timur Tengah. Sisanya dipenuhi dari negara lain, termasuk Australia.
“Jadi total LPG kita dari 100%, dari 7,6 juta impor, itu 70% kita ambil dari Amerika. 20% dari Middle East, sisanya dari negara lain seperti Australia,” ujar Bahlil.
Untuk menjaga stabilitas pasokan, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah skenario, termasuk memperluas kerja sama dengan berbagai negara pemasok serta menjajaki kontrak jangka panjang.
Langkah diversifikasi sumber impor tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan LPG nasional sekaligus mengantisipasi potensi gangguan distribusi global.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional tetap terjaga dan kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 dapat terpenuhi dengan baik.
(Indotorial.com)
